Polda Jatim Bongkar Sindikat Perdagangan Satwa Dilindungi


Polda Jatim Bongkar Sindikat Perdagangan Satwa Dilindungi

Polda Jatim berhasil menyingkap jaringan spesialis perdagangan satwa dilindungi. Hasil kerja tersebut patut diapresiasi.

 Mengingat perdagangan ilegal satwa liar (Illegal Wildlife Trade) merupakan salah satu bentuk kejahatan transnasional yang terorganisir.

 Aktifitas bisnis ilegal ini tentu ancaman bagi keberlangsungan beberapa spesies, khususnya spesies satwa yang diambang kepunahan. Dalam kegiatan ungkap kasus tindak pidana satwa dilindungi Selasa (04/01/2020), Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan merilis 5 tersangka masing-masing AS, SM, FS, DK, dan IS. Luki yang didampingi Kabidhumas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko, Dirkrimsus Kombes Gideon Arif Setyawan, Kepala Balai Besar KSDA Jatim Nandang Prihadi mengungkap jika para tersangka telah melakukan tindak pidana terhadap hewan atau satwa yang dilindungi dan memperdagangkan untuk kepentingan pribadi.

 Perbuatan para tersangka tersebut telah melanggar UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi SDA). Dengan demikian dapat dijerat dengan Pasal 40 ayat (2) UU Konservasi. Ketentuan mana menyebutkan, “Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”. Luki menerangkan bahwa kedua kelompok ini merupakan ‘pemain’ burung langka dan ‘pemain’ kerang. Dimana masing-masing merupakan residivis. Oleh karenanya mereka ditindak karena setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh,
menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperdagangkan satwa yang dilindungi.

Masih menurut Kapolda Jatim, semua satwa yang dilindungi ini akan dijual baik secara utuh atau terpotong ini dilarang apalagi di ekspor. Perdagangan kerang yang berhasil digagalkan Polda Jatim diperkirakan bernilai Rp 1,5 miliar. Rencananya kerang tersebut selain diperdagangkan di dalam negeri. Sedangkan sebagian lainnya juga akan diekspor oleh para pelaku. Modus penjualan dilakukan secara online melalui siber.

 Sementara itu Luki mengungkap bahwa untuk jenis Kakak Tua Maluku berasal dari Maluku Selatan dari hutan primer sekunder (Pulau Seram, Pulau Ambon, Pulau Haruku, Pulau Saparua) dijual dengan harga Rp.5 juta per ekornya. Tempat kejadian perkara, Dusun Tamtu Suko Wetan Karangan Trenggalek, Dusun Pati Purworejo Ngunut Tulungagung, Dusun Sumurwarak Purworejo Ngunut Tulungagung, Dusun Recobarong, Desa Ngunut Tulungagung dan Desa Kilensari Panarukan Situbondo. Dirkrimsus Polda Jatim menambahkan bahwa kronologi terungkapnya perdagangan satwa liar yang dilindungi bermula saat petugas subdit 4 Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim mendapat informasi dari masyarakat.

 Informasi tersebut terkait dugaan tindak pidana perdagangan yang dilindungi yang terjadi di wilayah hukum Polda Jatim tepatnya di daerah Trenggalek. ” Tersangka telah melakukan kegiatan ini selama 2 tahun mulai 2018 hingga 2020 mendapatkan satwa dilindungi dari jaringan perdagangan satwa nasional melalui grup media sosial.

Tersangka memperdagangkan satwa langka tersebut dengan cara sistem terputus,” Imbuh Gideon. Turut disita oleh polisi barang bukti berupa 53 ekor, 41 Ekor hidup dan 12 Ekor mati. Kemudian 19 ekor Kakatua Maluku. Sisanya adalah 34 ekor berupa Elang Brontok, Brontok Hitam, Julang Emas, Kukang, Trenggiling, Alap Alap Sapi, Binturung, Rangkong Badak dan Kangkareng Perut Putih. Selain itu polisi juga menyita sebanyak 610 biji kerang antara lain. Jenis kerang terdiri dari Triton Terompet, Kima dan Kepala Kambing. #SaysNoToIllegalWildlifeTrade Sumber : dnetwork.site

Subscribe to receive free email updates: