Peran Rumah dalam Program Social Distancing

Peran Rumah dalam Program Social Distancing - Hallo sahabat Cakrawala, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Peran Rumah dalam Program Social Distancing, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel covid-19, Artikel perekonomian, Artikel rumah, Artikel virus corona, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Peran Rumah dalam Program Social Distancing
link : Peran Rumah dalam Program Social Distancing

Baca juga


Peran Rumah dalam Program Social Distancing



 DUNIA saat ini sedang dihadapkan pada pandemi atau wabah Coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang telah menginfeksi lebih dari 180 negara, dengan laporan kasus pertama berasal dari Kota Wuhan pada akhir 2019. Awalnya, banyak yang memperkirakan wabah covid-19 ini serupa dengan wabah SARS pada 2003. Namun, ternyata penyebarannya jauh lebih cepat dan lebih luas. Akibatnya, wabah covid- 19 ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Pertumbuhan ekonomi dunia awalnya diperkirakan akan rebound di 2020 setelah mencapai level terendah di 2019. Namun, penyebaran wabah covid-19 ini mengakibatkan guncangan terhadap sisi supply dan sisi demand karena banyak negara yang menghentikan aktivitas ekonominya guna membatasi penyebaran virus. Akibatnya, mulai terjadi kontraksi ekonomi karena turunnya investasi dan produks i, meningkatnya tingkat pengangguran dan berujung pada turunnya konsumsi.
Kondisi ini berpotensi membawa perekonomian global pada jurang resesi atau pertumbuhan ekonomi yang negatif pada 2020 ini. Untuk menangani wabah ccovid-19 dan juga untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi, berbagai negara mengeluarkan paket stimulus fiskal dan moneter. *Besar anggaran yang disiapkan dari tiap negara bervariasi dengan porsi antara 0,7% dari PDB yang dilakukan Spanyol sampai dengan 10,9% dari PDB yang dilakukan Australia. Secara garis besar, stimulus tersebut berusaha melindungi tiga hal utama, yaitu jaring pengaman sosial (social safety net), keberlangsungan dunia usaha/industri, dan yang terpenting ialah fasilitas kesehatan masyarakat.
Flattening the curve merupakan salah satu upaya mengurangi penambahan jumlah kasus baru dalam waktu tertentu. Berdasarkan paper yang dibuat ekonom dari Berkeley, Gournichas (2020), jika 50% populasi dunia terinfeksi, 1% di antaranya akan meninggal.
Asumsi ini dibuat berdasarkan historis tingkat kematian dan ketersediaan ruang ICU pada rumah sakit yang dijadikan sampel. *Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan yang tegas untuk memperlambat pertumbuhan kasus baru. Mengingat, kapasitas sistem kesehatan yang tersedia tidak akan mampu menampung seluruh pasien covid-19 yang penyebaran dan penularannya sangat cepat.
Upaya memperlambat pertumbuhan kasus baru ini mungkin tidak akan mengurangi secara total korban yang terinfeksi, tetapi akan memberikan kesempatan bagi yang sakit untuk mendapatkan perawatan secara efektif walaupun dengan risiko bahwa wabah akan berlangsung lebih lama.
Berbagai upaya untuk fl attening the curve, antara lain dengan melakukan lockdown seperti yang dilakukan di Tiong kok dan Italia, melakukan isolasi mandiri di rumah, atau kebijakan lainnya yang tujuan utamanya ialah agar terjadi social distancing guna mengurangi penyebaran virus dan mencegah munculnya kasus baru. Berbagai negara menerapkannya secara bervariasi disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan karakteristik masyarakatnya.
Kebijakan lockdown merupakan salah satu kebijakan yang cukup ekstrem, tetapi efektif untuk melokalisasi terjadinya penyebaran, terutama pada daerah yang menjadi episentrum pandemi.
Sementara itu, kebijakan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing dan meminimalkan interaksi dengan orang lain merupakan kebijakan yang lebih banyak dipilih banyak negara, mengingat dampaknya secara sosial dan ekonomi dinilai lebih mampu dilakukan banyak negara untuk memperlambat pertumbuhan kasus baru. Menurut Hausmann (2020), upaya flattening the curve dengan pendekatan apa pun, tetap akan mengancam ekonomi suatu negara, terlebih lagi bagi negara berkembang.

Rumah sebagai selter
Social distancing sebagai upaya flattening the curve membawa konsekuensi pada perubahan aktivitas masyarakat, yang awalnya banyak melakukan aktivitas di luar rumah (baik untuk sekolah, bekerja, berdagang, maupun bersosialisasi), menjadi melakukan seluruh aktivitas tersebut di dalam rumah.
Dengan dukungan platform digital, kegiatan pertemuan atau pembelajaran yang awalnya dilakukan di luar rumah, menjadi bisa dilakukan dari rumah masing-masing sehingga beberapa istilah muncul belakangan ini, seperti work from home ataupun school from home.
Baik work from home maupun school from home mengingatkan kita akan pentingnya rumah sebagai selter atau tempat bernaung. Selama ini aktivitas masyarakat terutama di kota-kota besar banyak dilakukan di luar rumah, dengan pola umum berangkat kerja di pagi hari dan baru kembali ke rumah sore atau malam hari.
Pola ini menyebabkan lebih banyak waktu yang dihabiskan di luar rumah jika dibandingkan dengan di dalam rumah. *Hingga, ada anggapan bahwa rumah hanya digunakan sekadar untuk tidur dan mandi, sedangkan aktivitas lain bisa dilakukan di luar rumah. Anggapan ini menyebabkan banyak orang selama ini tinggal di tempat yang tidak layak dan tidak menyadari pentingnya memiliki rumah yang layak. *Secara tidak langsung, pola pikir seperti ini berkontribusi juga pada tingginya angka backlog perumahan di Indonesia.
Namun , munculnya wabah covid-19 membawa kesadaran baru bahwa rumah ialah hal yang sangat penting untuk dimiliki.
Upaya social distancing de ngan melakukan karantina mandiri tidak akan efektif dilakukan jika tidak memiliki rumah atau rumah yang ditempati tidak layak. Rumah yang layak akan bisa mendukung dan membantu segala aktivitas penghuninya dari rumah karena memiliki suasana yang kondusif untuk bekerja ataupun berbisnis secara online.
Rumah yang layak juga akan bermanfaat dalam upaya social distancing. Banyak rumah di Indonesia saat ini dihuni beberapa kepala keluarga sehingga rumah tersebut sangat padat, kurang memenuhi standar hidup layak, dan berdampak pada kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama di tengah kondisi pandemi.
Dengan setiap keluarga bisa memiliki rumah, harapan untuk setiap keluarga bisa hidup secara layak dan sehat semakin tinggi karena penghuninya bisa memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik, atau dengan kata lain akan menaikkan kualitas hidup masyarakat. Dengan meningkatnya kualitas hidup, otomatis akan meningkatkan produktivitas masyarakat.
Rumah yang layak juga mendukung sebagai tempat untuk membesarkan dan mendidik anak dengan layak sehingga aktivitas bermain dan belajar bisa berlangsung secara seimbang di dalam rumah. Dengan rumah yang layak, ketika anak-anak diharuskan untuk melakukan school from home, akan membuat kondisi belajar lebih fokus dan suasana yang kondusif untuk belajar.
Selain itu, rumah yang layak berguna mengurangi risiko anak bermain dalam lingkungan yang kotor, atau kondisi sosial lingkungan yang kurang baik bagi perkembangan sikap mental anak.

Dukungan pemerintah
Seperti disampaikan pada bagian pertama tulisan ini, bahwa pemerintah dari berbagai negara mengeluarkan paket stimulus untuk mengantisipasi kondisi yang terjadi akibat covid-19, termasuk di dalamnya pemerintah Indonesia.
Sektor perumahan menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian dengan memperoleh alokasi anggaran pada stimulus ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
Pada Stimulus Ekonomi I yang fokus pada peningkatan konsumsi domestik untuk mendorong ekonomi nasional, sektor perumahan mendapatkan tambahan dana sebesar Rp1,5 triliun untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), yakni Rp800 miliar digunakan untuk program KPR Subsidi Selisih Bunga (SSB), dan Rp700 miliar sisanya digunakan untuk program Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM). *Stimulus pemerintah di sektor perumahan di tengah pandemi ini layak diapresiasi sebagai bentuk dukungan bagi MBR agar tetap bisa memiliki rumah.
Sebagaimana diketahui bahwa sektor perumahan memiliki dampak terhadap lebih dari 170 sektor lainnya sehingga setiap upaya pengembangan kawasan untuk perumahan akan berdampak pada banyak sektor ekonomi lainnya.
Dampak ekonomi tersebut bahkan sudah bisa terlihat ketika masih proses pembangunan, yakni akan menghidupkan perdagangan. Khususnya, bahan bangunan yang mayoritas merupakan produksi dalam negeri, penggunaan pekerja akan mengurangi pengangguran, sekaligus sebagai sumber pemasukan masyarakat, dan kebutuhan konsumsi makanan pekerja akan dapat menghidupkan perdagangan makanan di sekitar.
Dampak ekonomi tersebut akan semakin besar dan berkelanjutan ketika kawasan perumahan itu telah dihuni karena masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut pasti membutuhkan dukungan sektor ekonomi lain untuk memenuhi kebutuhan.
Dengan besarnya dampak ekonomi yang bisa diciptakan kawasan perumahan, sudah selayaknya jika pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi yang turun di 2020 akibat dampak penyebaran covid-19, anggaran bagi sektor perumahan perlu ditingkatkan dan diperluas.
Untuk mendorong penyaluran KPR subsidi tidak melulu harus berasal dari APBN (FLPP dan SSB) karena Kementerian PUPR telah memiliki program Bantuan Stimulus Perumahan Swadaya (BSPS) untuk mempercepat penyediaan rumah bagi masyarakat, khususnya di sektor informal.
Dalam praktiknya, pelaksanaan program ini telah dikembangkan menjadi program Kolaborasi BCG (business, community, dan government) sehingga penyediaan rumah lebih mudah dengan koordinasi dari berbagai stakeholders (bank, komunitas, dan pemerintah pusat maupun daerah), dan akan dirasakan dampaknya oleh banyak masyarakat karena menggunakan basis komunitas sebagai sasaran program.
Program ini menyasar masyarakat yang berada pada desil penghasilan rendah dengan penghasilan maksimal sebesar upah minimum provinsi (UMP) dan merupakan segmen masyarakat terbanyak yang belum memiliki rumah.
Dengan memperbanyak program ini, akan mengurangi angka backlog perumahan sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat sektor informal agar bisa memiliki rumah yang layak, terlebih ketika terjadi pandemi. Sementara itu, peran pemerintah daerah terkait dengan pembebasan lahan sehingga pola kolaborasi BCG ini akan dapat lebih mempercepat program Perumahan Bersubsidi.
Pengembangan program perumahan, terutama perumahan bersubsidi, memang belum akan terlihat hasilnya dalam jangka pendek sehingga yang dibutuhkan ialah kesamaan pandangan antara stakeholders dalam menyikapi dampak positif dari program perumahan.
Yang pasti, dengan memiliki rumah, kualitas hidup masyarakat akan meningkat, yang pada ujungnya akan mendorong produktivitas masyarakat.
Naiknya produktivitas tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya akan mendorong kemakmuran suatu negara. Karena itu, berinvestasilah di sektor perumahan.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi


Demikianlah Artikel Peran Rumah dalam Program Social Distancing

Sekianlah artikel Peran Rumah dalam Program Social Distancing kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Peran Rumah dalam Program Social Distancing dengan alamat link https://www.cakrawala.my.id/2020/04/peran-rumah-dalam-program-social.html

Subscribe to receive free email updates: